SINGASANA, NusaBali – Dua rumah sakit rujukan di Kabupaten Tabanan, yakni RSUD Singasana dan RSUD Tabanan, menyiapkan 11 ruang isolasi untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kasus super flu. Hingga saat ini belum ditemukan kasus di Tabanan. Namun, kesiapsiagaan fasilitas dan tenaga kesehatan telah dipastikan.
Direktur RSUD Singasana, I Wayan Dodi Setiawan, mengatakan pihaknya menyiapkan 11 bed ruang isolasi sesuai ketentuan. Seluruh ruang isolasi tersebut saat ini masih kosong. “Sebanyak 11 bed isolasi kami siagakan. Jumlahnya mencukupi. Jika terjadi peningkatan kasus, tentu akan dilakukan pengaturan ulang. Astungkara semoga tidak sampai ada kasus di Tabanan,” ujarnya, Rabu (14/1).
Dia menjelaskan, ruang isolasi hanya digunakan bagi pasien yang berpotensi menularkan penyakit. Selain itu, RSUD Singasana juga menerapkan kewaspadaan standar sesuai SOP, termasuk pencegahan infeksi dengan penularan melalui udara.
Kesiapan tersebut juga ditunjang RSUD Tabanan. Wakil Direktur Pelayanan dan Pengendalian Mutu RSUD Tabanan, I Gusti Ngurah Bagus Juniada, menyebut pihaknya telah menyiapkan ruang isolasi sebagai langkah antisipasi. “Ruang isolasi sudah tersedia yang sudah siap 6 ruang. Super flu ini gejalanya tidak seberat Covid-19 dan penanganannya masih seperti flu biasa,” katanya.
Menurutnya, hingga kini belum ada edaran atau petunjuk teknis khusus dari Dinas Kesehatan terkait penanganan super flu. Pemeriksaan laboratorium dilakukan jika gejala flu dinilai mencurigakan oleh tenaga medis.
Dijelaskan pula, kelompok yang rentan terpapar super flu meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis, serta orang dengan daya tahan tubuh rendah. Meski demikian, dr Bagus mengimbau masyarakat diminta tetap tenang dan waspada. Sejauh ini, belum ada bukti super flu lebih berbahaya dibandingkan flu biasa. “Kalau gejala umumnya berupa demam, batuk pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan lemas, namun dengan tingkat penyebaran yang lebih cepat,” tegasnya.
Untuk itu, masyarakat diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti rutin mencuci tangan, memakai masker saat sakit atau berada di keramaian, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila gejala memburuk. des Dijelaskan pula, kelompok yang rentan terpapar super flu meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis, serta orang dengan daya tahan tubuh rendah.
dr Bagus mengimbau masyarakat diminta tetap tenang dan waspada. Sejauh ini, belum ada bukti super flu lebih berbahaya dibandingkan flu biasa. “Kalau gejala umumnya berupa demam, batuk pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan lemas, namun dengan tingkat penyebaran yang lebih cepat,”tegasnya.
Untuk itu, masyarakat diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti rutin mencuci tangan, memakai masker saat sakit atau berada di keramaian, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila gejala memburuk.
Untuk itu, masyarakat diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti rutin mencuci tangan, memakai masker saat sakit atau berada di keramaian, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila gejala memburuk.7des
Sumber: nusabali.com







