SINGARAJA, NusaBali – Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra memastikan layanan bedah di RSUD Buleleng akan ditingkatkan signifikan tahun depan.
Pemerintah daerah menyiapkan pembangunan gedung baru lengkap dengan penambahan enam ruang operasi modern berstandar nasional, untuk menjawab kebutuhan layanan bedah yang selama ini menumpuk hingga antre dua bulan.
Bupati Sutjidra menyampaikan hal tersebut saat meninjau layanan di RSUD Buleleng, Kamis (4/12). Ia menegaskan bahwa revitalisasi fasilitas medis menjadi prioritas mengingat kondisi ruang operasi eksisting sudah tidak memadai.
“Sekarang ada enam ruang operasi, dua di UGD, dua di belakang, dan dua sisanya sudah tidak layak. Pasien antre sampai dua bulan, sementara kasus emergensi sering harus dirujuk karena keterbatasan ruang,” ujar Sutjidra.
Enam ruang operasi baru tersebut akan dibangun di gedung baru menyatu dengan gedung Ponek dan Kamboja. Ruang bedah utama serta ruang emergensi didesain lebih modern, mengadopsi standar ruang operasi RSUP Sanglah.
“Dengan desain baru, RSUD Buleleng akan menjadi yang kedua setelah Sanglah yang memiliki kamar operasi dengan standar nasional seperti ini,” jelas Sutjidra.
Setiap ruang operasi diperkirakan menelan anggaran Rp 6–7 miliar, termasuk bangunan dan satu set lengkap alat kesehatan. Kehadiran fasilitas baru ini diyakini akan membuka peluang lebih banyak tindakan subspesialis untuk dilakukan di Buleleng. “Kalaupun kita belum punya dokter subspesialis, bisa bekerja sama dengan Sanglah untuk supervisi. Selain juga nanti akan didukung oleh dokter-dokter kita yang saat ini menempuh pendidikan sub spesialis,” tambah Bupati asal Desa Bontihing tersebut.
Sutjidra menegaskan penambahan gedung dilakukan karena kondisi RSUD Buleleng semakin krodit dan ruang yang ada tidak lagi cukup menampung kebutuhan pelayanan. Dengan hadirnya ruang operasi baru, pelayanan diharapkan semakin cepat dan masyarakat tidak perlu antre berlarut-larut seperti saat ini.
Revitalisasi RSUD Buleleng ini menjadi bagian dari langkah pemerintah daerah memperkuat pelayanan kesehatan berbasis standar nasional dan mengurangi ketergantungan masyarakat pada rumah sakit rujukan di Denpasar.
“Ini menjadi perlu karena tantangan kedepan cukup berat dan harus berbenah dan ingin menangkap peluang keberadaan FK Undiksha,” terang Sutjidra.7 k23
Sumber: nusabali.com







