manajemenrumahsakit.com – Para dokter di Uni Emirat Arab telah melaporkan peningkatan jumlah pasien rumah sakit dengan masalah perut sejak awal Ramadan. DemikianThe National melaporkan akhir pekan lalu.
Bagian gawat darurat penuh pasien dengan masalah perut, terkait kelebihan makan selama buka puasa dan masalah ginjal karena dehidrasi selama jam puasa.
Menurut surat kabar tersebut, dokter mengatakan bahwa orang-orang yang datang ke rumah sakit tersebut naik dua kali lipat daripada jumlah normal.
“Kami mendapatkan lebih banyak pasien menderita sakit perut karena pola makan salah setelah berpuasa,” Dr Biniam Tesfayohannes, Kepala Departemen Gawat Darurat di Rumah Sakit Mafraq di Abu Dhabi.
“Kebanyakan pasien menderita gangguan perut setelah menyantap makanan dengan sangat cepat saat berbuka puasa. Beberapa pasien lain makan karbohidrat terlalu banyak, sehingga menderita kembung,” lanjut Tesfayohannes.
Sementara itu Dr Mohamed Magdi, seorang spesialis pengobatan darurat di sebuah rumah sakit di Dubai mengatakan, “Kebanyakan pasien memiliki gastroenteritis (masalah pencernaan). Mereka muntah, diare, dansakit perut.”
“Jangan terburu-buru untuk makan dalam jumlah besar. Makanlah secara bertahap, dengan meningkatkan jumlah makanan yang kita makan secara perlahan. Kami menyarankan agar selama sahur santap makanan ringan dan jaga kebersihan makanan,” kata Mohamed.
Dr Salwan Ibrahim, Middle East medical director for International SOS, sebuah perusahaan kesehatan global, mengatakan, “Makanlah dengan bijaksana, istirahat yang cukup. Berbuka puasalah dengan porsi kecil dan kemudian menunggu 10 menit untuk mengkonsumsi lebih banyak makanan yang kaya mineral.”
Penulis: Nessy Febrinastri/FAB
Sumber: beritasatu.com

manajemenrumahsakit.net Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo meresmikan Rumah Singgah RSUP Dr. Kariadi pada hari Senin, 7 Juli 2014. Rumah singgah yang dikelola Dharma Wanita Persatuan RSUP Dr. Kariadi ini diperuntukkan sebagai tempat tinggal sementara bagi pasien luar kota yang memerlukan tempat untuk menginap namun tidak mempunyai biaya.
Minggu ini kami sajikan tips bagaimana mengelola RS secara efektif dan bagaimana agar sustainabilitasnya terjaga. Tips ini berasal dari berbagai pengalaman yang diintisarikan ke dalam satu tulisan dan pernah dimuat oleh Becker’s Hospital Review dan Hospital Finance News, dua media online besar di USA. Salah satu langkah untuk menjaga efektifitas adalah dengan outsource. Secara finansial outsourcing ini sebaiknya mengutamakan mitra lokal agar menghemat biaya distribusi material yang pada akhirnya dapat menekan biaya satuan pelayanan di RS. Ikuti tips lainnya 


Laura Miller, Editor in Chief, ASC Review & Becker’s Review in Spine pernah menulis mengenai bagaimana kiat agar RS bisa dijalankan secara efektif. Tulisannya ini dimuat pada Becker’s Hospital Review edisi Desember 2011 lalu. Menurutnya ada enam kiat yang bisa dipakai oleh para manajer RS yang tampaknya bisa diterapkan di RS swasta maupun RS pemerintah.
Sementara itu, Kelsey Brimmer, seorang associate editor di Healthcare Finance News membagikan kiat bagi keberlangsungan RS khususnya dari sisi keuangan. Kiat-kiat ini diambil dari laporan khusus yang mengeksplorasi ide terkait dengan pengadaan di RS. Keith Sutter adalah salah satu kontributor pada laporan tersebut yang kebetulan juga adalah sustainable brand marketing di perusahaan Johnson & Johnson. Bersama dengan Joanne Spigonardo (senior associate director sebuah lembaga inisiatif kepemimpinan), Shutter menuliskan kiatnya kepada HFN sebagai berikut.
manajemenrumahsakit.net – RENGAT – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Indrasari Rengat akan menambah tenaga dokter spesialis penyakit dalam. Pasalnya, di RSUD Indrasari Rengat hanya memiliki satu dokter spesialis penyakit dalam dan tidak lagi mampu melayani banyaknya pasien yang datang tiap hari.





