Monday, Sep 22, 2014
Login

Pertemuan VI. Akuntansi Persediaan dan Aset Tetap Rumah Sakit

Fasilitator:

  1. DR. Anastasia Susty Ambarriani., Akt., MSc
  2. Yos Hendra SE., MM., Akt
  3. Barkah Wahyu Prasetyo SE., Akt

Tujuan Pembelajaran:

  1. Peserta memaham berbagai metode penilaian persediaan
  2. Peserta memahami klasifikasi aset tetap dan mengetahui berbagai metode penyusutan aset tetap
  3. Perserta dapat melakukan akuntansi persediaan

A. Akuntansi Persediaan Rumah Sakit

Pengertian Persediaan

Pengertian Persediaan pada rumah sakit adalah aset berwujud dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) yang digunakan untuk mendukung kegiatan administratif dan pemberian pelayanan jasa. Persediaan pada rumah sakit meliputi:

  1. Persediaan Barang Farmasi
  2. Persediaan Barang gizi
  3. Persediaan Barang tehnik
  4. Persediaan Barang rumah tangga
  5. Persediaan Barang lainnya

Akuntansi Persediaan

Dalam sistem akuntansi berbasis kas, pencatatan persediaan hanya terjadi ketika rumah sakit membeli persediaan, dan langsung diakui sebagai biaya persediaan pada saat terjadi pembelian. Dalam sistem akuntansi berbasis akrual, pencatatan persediaan dilakukan pada saat pembelian dan pemakaian persediaan atau berkurangnya persediaan. Ilustrasi jurnal yang harus dicatat pada saat perolehan dan pemakaian persediaan adalah sebagai berikut:

Tanggal 1 . Rumah sakit membeli obat-obatan senilai RP 50.000.000, potongan pembelian sebesar 5%.

Tanggal 5. Rumah sakit melayani pasien dengan pemakaian obat-obatan senilai Rp. 5.000.000 yang

dibebankan kepada pasien dengan harga Rp 6.000.000

Maka jurnal yang dibuat adalah sebagai berikut:

Tanggal Jurnal
1 Persediaan Barang Farmasi                50.000.000

Potongan pembelian                               2.500.000

Kas                                                            47.500.000

5 Beban Barang farmasi                            5.000.000

Persediaan Barang Farmasi                  5.000.000

Kas                                                              6.000.000

Pendapatan Pelayanan                           6.000.000

Jika rumah sakit memproduksi obat tertentu dengan menggunakan bahan dari persediaan barang farmasi, maka ketika obat tersebut siap untuk dijual, harus dibuat pencatatan untuk mentransfer persediaan bahan obat menjadi obat yang siap dijual.

Contoh: tanggal 6, rumah sakit memproduksi obat batuk yang diproses menggunakan bahan-bahan obat yang dimiliki rumah sakit senilai Rp 6.000.000, maka ketika obat batuk tersebut siap untuk dijual, harus dilakukan pencatatan sebagai berikut:

Tanggal Jurnal
6 Persediaan Barang Farmasi                    6.000.000

Persediaan Barang Farmasi                    6.000.000

Penilaian Persediaan

Pada akhir periode, rumah sakit harus membuat laporan keuangan, salah satunya adalah neraca. Persediaan harus dilaporkan di dalam neraca sebagai aset sebesar harga pokok persediaan. Permasalahannya adalah persediaan barang farmasi mungkin saja diberi secara bertahap atau tidak dalam satu waktu tertentu, dan mungkin saja dengan harga peroleh yang tidak sama. Harga manakah yang akan digunakan dalam penyajian persediaan di neraca?. Ada 2 metode untuk menentukan nilai persediaan, yaitu : (1) metode fisik (periodik) dan (2) metode perpetual.

Metode Periodik (Fisik)

Dalam metode periodik, aliran harga pokok persediaan tidak diperhatikan. Metode periodik juga tidak melakukan pencatatan, ketika terjadi transaksi pemakaian persediaan. Pencatatan hanya dilakukan pada akhir periode. Persediaan akhir dinilai dengan cara melakukan pengamatan secara fisik dan melakukan penyesuaian harga pokok pada akhir periode.

Contoh:

Tanggal 1 nilai persediaan obat sebesar Rp 200.000

Tanggal 3 rumah sakit melakukan pembelian persediaan senilai Rp 10.000.000

Tanggal 15 Rumah sakit melakukan pelayanan dengan rincian:

Pendapatan tindakan Rp 1.000.000

pemakaian persediaan sebesar Rp 4.500.000, dan dibebankan kepada pasien sebesar Rp

5.000.000

Tanggal 30 ditaksir nilai persediaan sebesar Rp 500.000

Maka pencatatan yang dilakukan dengan metode periodik adalah sebagai berikut:

Tanggal
3 Pembelian persediaan                  10.000.000

Kas                                                    10.000.000

15 Kas                                                     6.000.000

Pendapatan Pelayanan                  6.000.000

Tidak ada pencatatan pemakaian persediaan

Harga Pokok Penjualan dilakukan dengan cara sebagai berikut:

Persediaan awal                             200.000

Pembelian                                    10.000.000

Persediaan yang tersedia          10.200.000

Nilai persediaan akhir                     500.000

HPP                                                  9.700.000

Metode Perpetual

Berbeda dengan metode fisik, metode perpetual memperhatikan aliran biaya persediaan secara terus menerus. Persediaan diakui pada saat diperoleh dan dikeluarkan. Nilai persediaan akhir diperoleh berdasarkan aliran biaya selama satu periode dan merupakan saldo akhir dari persediaan tersebut. Jika digunakan contoh sebelumnya, maka pencatatan yang dilakukan dengan metode perpetual adalah sebagai berikut:

Tanggal Jurnal
3 Persediaan                                    10.000.000

Kas                                                  10.000.000

15 Kas                                                  6.000.000

Pendapatan Pelayanan               6.000.000

15 Beban Persediaan                        4.500.000

Persediaan                                     4.500.000

Dalam PP no 71 tahun 2010 tentang standar akuntansi pemerintahan dan KMK no 1981 tahun 2010 tentang Pedoman Akuntansi BLU rumah sakit, ditegaskan bahwa metode pencatatan persediaan dalam organisasi pemerintah dan BLU rumah sakit harus dilakukan dengan menggunakan metode perpetual. Oleh karena itu rumah sakit yang menjadi BLU harus melakukan pencatatan persediaan dengan metode perpetual.  Metode perpetual, menentukan nilai persediaan dengan memperhitungakan aliran biaya persediaan setiap saat. Penyajian nilai persediaan akhir pada neraca dalam metode perpetual dapat menggunakan beberapa pendekatan yaitu (1) FIFO (First in First Out); (2) LIFO (Last In First Out) dan (3) Metode Rata-rata (Average). Metode FIFO mencatat pengeluaran persediaan berdasarkan harga terdahulu, sedangkan metode LIFO mencatat pengeluaran persediaan dengan harga terakhir. Metode rata-rata mencatat pengeluaran persediann berdasarkan harga rata-rata. Dalam KMK 1981 tahun 2010 tentang pedoman akuntansi ditegaskan bahwa metode yang dipergunakan dalam penilaian persediaan BLU rumah sakit adalah metode rata-rata tertimbang.

Ilustrasi untuk ketiga metode tersebut dapat dilihat melalui contoh berikut ini:

Data Persediaan pada rumah sakit “Segar Bugar” adalah sebagai berikut:

Tanggal 2 maret : Pembelian Persediaan sebesar 2000 unit dengan harga Rp 4.000 per unit

15 maret : Pembelian persediaan sebesar 6000 unit dengan harga Rp 4.400 per unit

19 maret: Pemakaian persediaan sebesar 4.000 unit

30 maret: pembelian persediaan sebesar 2000 unit dengan harga Rp 4.750 per unit

Metode FIFO

Tanggal Pembelian Pemakaian Saldo
2   maret 2.000 unit @ Rp 4.000 2000 @ Rp 4.000 = Rp 8.000.000
15 6.000 unit @ Rp 4.400 2000 @ Rp 4.000 = Rp 8.000.000

6000@Rp 4.400   =     26.400.000

34.400.000

2000@Rp4.000=Rp 8.000.000

2000@Rp4.400=Rp 8.800.000

16.800.000

4.000@Rp4.400 = Rp17.600.000
30 2.000 unit @ Rp 4.750 4000@ Rp4.400 = Rp17.600.000

2000@ Rp 4.750 = Rp 9.500.000

Rp 27.100.000

METODE RATA-RATA

Metode rata-rata perpetual

Tgl Pembelian Pemakaian Saldo
2 2.000 unit @ Rp 4.000=  8.000.000 2000 @Rp4.000 = 8.000.000
15 6.000 unit @ Rp 4.400= 26.400.000 8000 @Rp4.300 =34.400.000
4000 @ Rp 4.300 = Rp 17.200.000
30 2.000 unit @ Rp 4.750= 9.500.000 6.000 @Rp4.600= 26.700.000

Metode rata-rata perpetual, dapat diterapkan untuk persediaan barang farmasi obat-obatan. Akan tetapi untuk persediaan bahan yang sifatnya habis pakai dan sulit ditentukan unit pemakaiannya dengan pasti, penggunaan metode rata-rata perpetual menjadi sulit diterapkan. Penggunaan rata-rata tertimbang periodik bisa diterapkan untuk melakukan penilaian persediaan bahan habis pakai yang unit pemakaiannya sulit ditentukan dengan pasti. Penggunaan metode rata-rata tertimbang periodik dapat diilustrasikan sebagai berikut:

Tanggal Unit dibeli Harga Pokok Total Harga Pokok Persediaan
2   maret 2.000 Rp 4.000 Rp    8.000.000
15 6.000 4.400 26.400.000
30 2.000 4.750 9.500.000
Total Persediaan 10.000 Rp 43.900.000

Harga pokok rata-rata tertimbang : Rp 43.900.000/10.000 = Rp 4.390

Harga Pokok Persediaan akhir = 6000 x Rp 4.390 = Rp 26.340.000

Persediaan tersedia                                       = Rp 43.900.000

Persediaan akhir                                                      26.340.000

Harga Pokok Persediaan/Beban Persediaan    Rp 17.500.000

Pada akhir periode perlu dibuat jurnal penyesuaian persediaan sebagai berikut:

Tanggal
30 Beban Persediaan                                     17.500.000

Persediaan                                                  17.500.000

Perlakuan Akuntansi Untuk Persediaan yang Kadaluarsa

Seringkali rumah sakit memiliki persediaan yang tidak dapat dipergunakan lagi karena kadaluarsa. Kadaluarsa persediaan bisa disebabkan oleh berbagai hal, misalnya perencanaan yang kurang baik atau perkiraan yang meleset. Persediaan yang kadaluarsa pada umumnya berupa barang-barang farmasi, seperti obat-obatan. Persediaan yang kadaluarsa tidak boleh dijual, dan harus dihapuskan.

Pada saat pengakuan terjadinya persediaan kadaluarsa, persediaan tersebut harus dipisahkan dari persediaan yang layak pakai dan jual. Pemisahan persediaan kadaluarsa dari persediaan yang layak pakai dan layak jual dicatat sebelah debet dengan rekening/akun Persediaan barang kadaluarsa dan sebelah kredit rekening persediaan. Selain itu juga harus dicatat penghapusan barang kadaluarsa di sebelah debet dengan rekening/akun Kerugian Persediaan Kadaluarsa dan sebelah kredit dicatat dengan rekening persediaan barang kadaluarsa

Contoh:

Pada tanggal 30 Maret, rumah sakit “segar bugar” mengakui bahwa ada obat-obatan yang kadaluarsa senilai Rp 5.000.000. Maka jurnal pemisahan dan penghapusan persediaan barang kadaluarsa adalah sebagai berikut:

Tanggal jurnal
30 maret Persediaan Barang Kadaluarsa                          Rp 5.000.000

Persediaan barang Farmasi                                Rp 5.000.000

Kerugian Persediaan Kadaluarsa                      Rp 5.000.000

Persediaan Barang Kadaluarsa                          Rp 5.000.000

Jika pada tanggal 2 April persediaan barang kadaluarsa tersebut kemudian dapat dijual senilai Rp 500.000. maka  hasil penjualan persediaan barang kadaluarsa tersebut harus diakui sebagai pendapatan lain-lain dan jurnal yang dibuat adalah sebagai berikut:

Tanggal jurnal
2 April Kas                                                              Rp 500.000

Pendapatan Lain-lain                             Rp 500.000

B. Akuntansi Aset Tetap Rumah Sakit

Pengertian Aset Tetap

Aset tetap adalah aset berwujud yang  dimiliki untuk digunakan dalam penyediaan jasa, disewakan kepada pihak lain dalam kegiatan usaha sehari-hari, atau tujuan administratif, dan diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.  Aset tetap di rumah sakit terdiri dari:

  1. Tanah;
  2. Gedung dan Bangunan;
  3. Peralatan dan Mesin;
  4. Jalan, Irigasi dan Jaringan;
  5. Aset tetap lainnya; dan
  6. Konstruksi dalam pengerjaan

Pengakuan dan Pengukuran Aset Tetap

Aset tetap rumah sakit  dicatat dengan menggunakan model biaya. Pada saat perolehan aset berwujud yang memenuhi kualifikasi sebagai aset tetap, maka aset tetap tersebut diakui berdasarkan biaya perolehannya. Sementara itu, dalam penyajiannya di laporan keuangan aset tetap disajikan berdasarkan nilai perolehan aset tersebut dikurangi akumulasi penyusutan. Sedangkan aset tetap berupa tanah disajikan sebagai bagian kelompok aset tetap sebesar biaya perolehan.

Penyusutan Aset Tetap

Aset tetap seiring dengan berjalannya waktu akan memiliki nilai ekonomis yang semakin menurun. Diperlukan alokasi biaya atas berkurangnya nilai ekonomis Aset Tetap tersebut. Untuk menentukan besarnya penyusutan nilai aset tetap tersebut dapat menggunakan beberapa metode. Metode Penyusutan tersebut antara lain sebagai berikut:

  • Unit Produksi

Besarnya penyusutan per periode adalah sebesar produksi yang dihasilkan pada periode yang bersangkutan dibandingkan dengan total produksi yang bisa dihasilkan dikalikan harga aset tetap. Metode ini biasanya dipergunakan untuk menghitung penyusutan mesin yang dapat diperkirakan jumlah kapasitas produksi totalnya.

  • Saldo Menurun (Declining Balance) dan Jumlah Angka Tahun (Sum Of Years)

Kedua metode penyusutan diatas disebut juga dengan metode akselerasi. Keduanya akan menghasilkan perhitungan biaya penyusutan yang besar di awal-awal penggunaan aset tetap dan semakin kecil seiring berjalannya waktu.

  • Garis Lurus (Straight Line)

Metode ini merupakan metode yang dianjurkan dalam KMK 1981 Tahun 2010 tentang akuntansi BLU rumah sakit. metode ini lebih mudah untuk diterapkan dibandingkan dengan metode yang lain. Biaya penyusutan yang dihasilkan dengan penghitungan metode garis lurus besarnya akan sama dari tahun ke tahun sampai dengan nilai aset tersebut habis.

Informasi yang harus dimiliki:

  1. Harga Perolehan

Merupakan besarnya nilai pengorabanan atau harga yang harus dibayar  untuk memperoleh aset tetap.

  1. Nilai Sisa / Nilai residu

Nilai residu aset adalah jumlah yang diperkirakan akan diperoleh rumah sakit saat ini dari pelepasan aset, setelah dikurangi taksiran biaya pelepasan, jika aset tersebut telah mencapai umur dan kondisi yang diharapkan pada akhir umur manfaatnya. Biasanya nilai sisa diasumsikan nol atau habis, akan tetapi bila aset tetap tersebut belum dihapuskan biasanya ditulis 1 (satu) rupiah.

  1. Umur Ekonomis/ manfaat

Umur ekonomis/ manfaat adalah suatu periode dimana aset diharapkan akan digunakan oleh rumah sakit. Taksiran umur ekonomis  dalam KMK 1981 Tahun 2010 tentang akuntansi BLU Rumah sakit diatur sebagai berikut:

  • Gedung permanen bertingkat 40 tahun
  • Gedung permanen, jalan, irigasi dan jaringan 25 tahun
  • Peralatan/mesin dan peralatan medis 5 tahun
  • Komputer dan kendaraan bermotor 5 tahun
  • Peralatan kantor dan meubelair 5 tahun

Penghitungan Biaya Penyusutan Metode Garis Lurus

Biaya Penyusutan dengan metode garis lurus  dihitung dengan cara mengurangkan Harga perolehan (HP) dengan Nilai Sisa (NS) kemudian dibagi dengan Umur Ekonomis (UE)

Biaya Penyusutan) =    (Harga Perolehan  – Nilai Sisa)

Umur Ekonomis

Contoh:

Rumah Sakit “ Segar Bugar” membeli sebuah mobil ambulance untuk operasionalnya pada 1 Januari tahun 2010, harga mobil Rp 500.000.000,00.

Maka perhitungan biaya penyusutannya (metode garis lurus) adalah sebagai berikut:

Nilai Perolehan       = Rp 500.000.000,00

Nilai Sisa                  =  Rp 0

Umur Ekonomis      =  5 tahun

Biaya Penyusutan   =      500 jt – 0

5 tahun

= +/- 100 Juta/tahun

Pencatatan jurnalnya adalah sebagai berikut:

—  Pembelian pada tanggal 1 Januari 2012:

Tanggal Jurnal
1 Jan 12 Kendaraan                                               Rp 500.000.000

Kas                                                            Rp 500.000.000

—  Pengakuan Biaya Penyusutan pada 31 Desember 2012:

Tanggal Jurnal
31 Des ‘12 Biaya Penyusutan                                  Rp 100.000.000

Akum. Penyusutan AT                          Rp 100.000.000

—  Saat dilakukan Penghapusan Aset Tetap Ambulance, pada tahun 2017:

Tanggal Jurnal
Jan ‘17 Akum. Penyusutan AT                        Rp.500.000.000

Aset Tetap                                              Rp.500.000.000

Diskusi:

  1. Metode penilaian persediaan apakah yang digunakan pada rumah sakit saudara?
  2. Permasalahan apa yang dihadapi dengan  metode penilaian persediaan yang digunakan oleh rumah sakit saudara?
  3. Apakah rumah sakit anda sudah melakukan perhitungan penyusutan? Jika sudah, metode apakah yang dipakai?
  4. Permasalahan apa yang dihadapi dengan  metode penyusutan aset tetap yang digunakan oleh rumah sakit saudara?

DOWNLOAD BAHAN VERSI WORD

DOWNLOAD BAHAN VERSI POWERPOINT

DOWNLOAD EXCEL PENYUSUTAN GARIS LURUS


Leave a Reply


+ 1 = 8